091114 – Suka Duka Mutawwif Masa Lalu

asSalaamu’alaykum.

Suka Duka Mutawwif Masa Lalu
SABTU, 14 NOVEMBER 2009 12:57
Jakarta (MCH). Mutawwif atau pemandu ibadah haji dan umrah sudah lama menjadi kebanggaan warga Arab Saudi, khususnya warga Mekah dan Madinah. Profesi mutawwif sudah ada sejak zaman lalu. bahkan sebelum islam banyak warga Quraish yang menjadi penunjuk peribadatan kala itu. Mutawwif akan menyambut jemaah sedang tiba hingga pulang. Menurut harian Arab News edisi Sabtu, 14 November hari ini, mutawwif masa kini dan mutawwid masa lalu sungguh berbeda. Meskipun semangatnya sama, yaitu melayani jemaah sebagai kebanggaan (khidmatul hajj syarafun lana), namun cara penerapan pelayanannya sudah berbeda. Jika dahulu dilakukan secara kekeluargaan, kini dikelola secara profesional dan dekat hubungannya dengan bisnis. Dahulu, mutawwif menyediakan rumahnya untuk jemaah dan ia menerima bantuan keuangan dari jemaah seikhlasnya. Pemilik rumah juga memasak untuk jemaah. Pokoknya, jemaah dianggap sebagai tamu terhormat.
Kini, sudah sangat berbeda. Pemilik modal tak perlu punya rumah. Mereka memilih rumah dan menyewanya tahunan dan kemudian disewakan kepada jemaah haji. Sewa selama musim haji sudah melampaui jauh harga sewa tahunan. Peranan mutawwif –yang sebagian besar berasal dari daerah jemaah yang sama– menjadi sangat penting untuk panduan dan bimbingan ibadah haji. Mereka sudah menunggu jemaahnya sejak berlabuh di pelabuhan Jeddah. Mereka menyambutnya dengan kemuliaan. Jemaah haji memasrahkan semua urusan haji kepada mutawwif ini.
Kenangan masa lalu yang manis dan indah masih terlintas di kalangan mutawwif tua yang kini masih hidup.
Hal ini dikenang terus oleh Amina Zawwawi, seorang Mutawwifah yang bekerja pada Muassasah Tawafa Asia Tenggara. Ia mengenal haji karena bekerja kepada ayahnya, seorang mutawwif sebagai pemandu ibadah jemaah haji wanita.
“Pada masa lampau, kami lakukan persiapan kedatangan jemaah haji tiga bulan sebelumnya,” kenang Amina. “Para tamu Allah akan mulai tiba untuk haji pada bulan Ramadhan, mendahului haji sekarang ini dengan sekitar dua bulan. Mereka biasa datang dengan kapal laut dalam pelayaran yang akan membawa mereka sekitar satu bulan setengah.” Secara kebetulan jemaah langganan keluarga Amina adalah jemaah haji asal Indonesia. Seluruh anggota keluarga akan menyambut kedatangan jemaah haji di Mekah dan menyambutnya pula dengan hidangan makanan selamat datang. Amina dan keluarga dengan suka cita mengantar jemaah menuju Masjidil Haram, melaksanakan tawaf dan sa’i dan tempat-tempat lainnya. Masjidil Haram –sebelum perluasan—sangat dekat dengan rumah mereka.
Jemaah laki-laki diantar mutawwif dan jemaah wanita dipandu mutawwifah. Mereka juga menemani perjalanan jemaah hingga menuju Madinah. Karena jemaah langganan keluarga Amina jemaah haji asal Indonesia, keluarga Amina akhirnya belajar bahasa Indonesia. Keluarga laki-laki menemani jemaah haji laki-laki ke Masjidil Haram, sementara anggota keluarga perempuan terlihat mendampingi jemaah wanita. Amina juga ikut mendirikan tenda di Arafah dan Mina. Menurut Amina Zawwawi, jemaah haji Indonesia biasa membawa kotak kayu besar (acap disebut Sahara. Ukurannya sekitar 100 X 80 X 60 cm dan dicat warna warni serta diberi nama pemilik dan nama kapalnya dalam tulisan Arab dan Latin) yang berisi bekal makanan, pakaian, dan keperluan lainnya selama di Tanah Suci. Jemaah juga selalu memberi oleh-oleh kepada mutawwifnya. Bahkan nama mutawwifnya sudah jauh-jauh hari dikenalnya.
“Kami juga memasok jemaah air Zamzam di manapun mereka berada. Jemaah wanita pergi ke tempat-tempat suci di atas unta dan tinggal dalam hawdaj (kotak kayu yang dibuat dalam bentuk kamar dengan tirai untuk menutupi) sedangkan laki-laki berjalan sepanjang jalan dari Mekah ke Mina, Arafah dan Muzdalifah,” katanya. Dalam penuturan Latifah Jamallail, mutawif perempuan lain yang kini bekerja untuk Muassasah Asia Selatan yang melayani jemaah haji India, Pakistan, Bangladesh, dan Srilangka, keluarganya telah berkecimpung dalam pelayanan haji ini selama lebih dari 80 tahun. “Para jemaah memilih mutawwif tergantung pada inisiatif pribadinya dan reputasinya, yang menyebar dari mulut ke mulut,” katanya. Jemaah haji biasanya pulang dengan membawa semacam kartu nama yang akan dibagikan kepada jemaah haji yang akan datang. “Ayah saya sering berkunjung ke rumah calon jemaah haji dan meminta mereka untuk tinggal di rumah ayah selama musim haji. Ketika jemaah itu datang, kami semua, termasuk ayah, tinggal di puncak gedung meninggalkan semua kamar lain untuk jemaah haji. ”
Latifah Jamallail mengatakan, pihak keluarganya melayani dan memasak makanan jemaah haji. Keluarga sering menerima hadiah dari jemaah haji asal India dan mereka semua pada akhirnya dapat berbicara bahasa Hindi. Para perempuan anggota keluarga Latifah mengajarkan para jemaah haji wanita cara yang benar melakukan haji dan membimbing mereka. Ayahnya melakukan hal yang sama dengan jemaah haji laki-laki. “Aku tidak akan pernah melupakan perjalanan menuju Arafah dengan bus terakhir yang sudah tua dan sering mogok. Tidak ada toilet yang layak di Mina selain lubang di padang pasir tempat kita menjawab panggilan alam,” katanya. Jemaah juga memanfaatkan tenda untuk masak. Hal ini menyebabkan sering muncul kebakaran.
Malam sebelum wukuf di Arafah (8 Zulhijjah malam) acap disebut sebagai ‘malam yatim piatu.’ Kenapa? Sebab, jemaah wanita kadang-kadang ditinggalkan sendirian di Mekah ketika orang laki-laki pergi ke tempat- tempat suci. Mereka pergi ke jalanan untuk bermain game, termasuk salah satu yang disebut gazal. Seorang wanita dimasukkan ke dalam hawdaj di atas unta dan yang lainnya akan mengikuti dia menyanyikan lagu-lagu khusus. Semua orang (yang tidak haji) berpuasa pada hari Arafah (9 Zulhijjah) dan kemudian pergi ke Masjidil Haram untuk berbuka puasa. Keesokan harinya mereka bepesta dan merayakan Idul Adha. Kadang, jemaah haji pun juga mulai memadati Masjidil Haram dan ikut melaksanakan salat Idul Adha. (Musthafa Helmy)


Pindahan dari:
“Suka Duka Mutawwif Masa Lalu”
Ditulis dalam hajji oleh TenagaSurya pada November 15, 2009 [Sunting Ini]
Tags: Makkah, Mekah
7 Komentar

Leave a Reply (Tulis Pesan)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: